PANDUAN MANAJEMEN NYERI

Panduan Manajemen Nyeri.

Donwload materi data-word DISINI !

Definisi.

Nyeri merupakan perasaan tidak nyaman,baik ringan maupun berat yang hanya dapat dirasakan oleh individu tersebut tanpa dapat dirasakan oleh orang lain,mencakup pola pikir,aktifitas seseorang secara langsung,dan perubahan hidup seseorang.Nyeri merupakan tanda dan gejala penting yang dapat menunjukkan telah terjadinya gangguan fisiological, Menurut beberapa tokoh atau sumber:

  • IASP 1979 (International for the Study of Pain)nyeri adalah”Suatu pengalaman sensorik dan emosional yang tidak menyenangkan,yang berkaitan dengan kerusakan jaringan yang nyata atau yang berpotensi untuk menimbulkan kerusakan jaringan”dari definisi tersebut dapat di simpulkan bahwa nyeri bersifat subyektif dimana individu mempelajari apa itu nyeri,melalaui pengalaman yang langsung berhubungan dengan luka (injuri),yang dimulai dari awal masa kehidupannya.
  • Sternbach (1968) mengatakan nyeri sebagai “konsep yang abstrak “ yang merujuk pada sensasi pribadi tentang sakit,suatu stimulus berbahaya yang menggambarkan akan terjadinya kerusakan jaringan,suatu pola respon untuk melindungi organism dari bahaya.
  • McCafferi (1979) mengatakan nyeri sebagai penjelasan pribadi tentang nyeri ketika dia mengatakan tentang nyeri “apapun yang di katakan tentang nyeri dan di manapun ketika dia mengatakan,hal itu ada.
  • Tamsuri (2007) nyeri di definisikan sebagai suatu keadaan yang mempengaruhi seseorang dan eksistensinya di ketahui bila seseorang pernah mengalaminya.

Pada tahun 1999,the Veteran?s Health Administrasion mengeluarkan kebijakan untuk memasukkan nyeri sebagai tanda vital ke lima,jadi perawat tidak hanya mengkaji suhu tubuh,nadi,tekanan darah,dan respirasi tetapi juga harus mengkaji tentang nyeri.

Saat ini telah di akui bahwa manajemen nyeri merupakan komponen penting dalam perawatan pasien.

  1. Nyeri adalah pengalaman sensorik dan emosional yang diakibatkan adanya kerusakan jaringan yang sedang atau akan terjadi, atau pengalaman sensorik dan emosional yang merasakan seolah-olah terjadi kerusakan jaringan. (International Association for the Study of Pain).
  2. Nyeri akut adalah nyeri dengan onset segera dan durasi yang terbatas, memiliki hubungan temporal dan kausal dengan adanya cedera atau penyakit.
  3. Nyeri kronik adalah nyeri yang bertahan untuk periode waktu yang lama. Nyeri kronik adalah nyeri yang terus ada meskipun telah terjadi proses penyembuhan dan sering sekali tidak diketahui penyebabnya yang pasti.

 

Ruang Lingkup.

Ruang lingkup pelayanan nyeri yaitu semua pasien dengan kondisi nyeri yang membutuhkan pelayanan manajemen nyeri, pengobatan dan observasi nyeri. Pada tahun 1986, The Nasional Institutes of Health Consensus Conference on Pain mengkategorikan nyeri menjadi 2 tipe yaitu :

  1. Nyeri Akut, merupakan hasil dari injuri acut,penyakit dan pembedahan. Nyeri akut adalah nyeri dengan onset segera dan durasi yang terbatas, memiliki hubungan temporal dan kausal dengan adanya cedera atau penyakit.
  2. Nyeri Kronik :
    • Non keganasan di hubungkan dengan kerusakan jaringan yang dalam masa penyembuhan atau tidak progresif
    • Keganasan adalah nyeri yang di hubungkan dengan kanker atau proses penyakit lain yang progresif.
    • Nyeri kronik adalah nyeri yang bertahan untuk periode waktu yang lama. Nyeri kronik adalah nyeri yang terus ada meskipun telah terjadi proses penyembuhan dan sering sekali tidak diketahui penyebab yang pasti
      Karakteristik Nyeri Akut Nyeri Kronis

 

Asesmen Nyeri.

1. Anamnesis.

a. Riwayat penyakit sekarang.

  • Onset nyeri: akut atau kronik, traumatik atau non-traumatik. 
  • Karakter dan derajat keparahan nyeri: nyeri tumpul, nyeri tajam, rasa terbakar, tidak nyaman, kesemutan, neuralgia.
  • Pola penjalaran / penyebaran nyeri.
  • Durasi dan lokasi nyeri.
  • Gejala lain yang menyertai misalnya kelemahan, baal, kesemutan, mual/muntah, atau gangguan keseimbangan / kontrol motorik.
  • Faktor yang memperberat dan memperingan.
  • Kronisitas.
  • Hasil pemeriksaan dan penanganan nyeri sebelumnya, termasuk respons terapi.
  • Gangguan / kehilangan fungsi akibat nyeri / luka.
  • Penggunaan alat bantu.
  • Perubahan fungsi mobilitas, kognitif, irama tidur, dan aktivitas hidup dasar (activity of daily living).
  • Singkirkan kemungkinan potensi emergensi pembedahan, seperti adanya fraktur yang tidak stabil, gejala neurologis progresif cepat yang berhubungan dengan sindrom kauda ekuina.

b. Riwayat pembedahan / penyakit dahulu.

c. Riwayat psiko-sosial.

  • Riwayat konsumsi alkohol, merokok, atau narkotika.
  • Identifikasi pengasuh / perawat utama (primer) pasien.
  • Identifikasi kondisi tempat tinggal pasien yang berpotensi menimbulkan eksaserbasi nyeri.
  • Pembatasan /restriksi partisipasi pasien dalam aktivitas sosial yang berpotensi menimbulkan stres. Pertimbangkan juga aktivitas penggantinya.
  • Masalah psikiatri (misalnya depresi, cemas, ide ingin bunuh diri) dapat menimbulkan pengaruh negatif terhadap motivasi dan kooperasi pasien dengan program penanganan / manajemen nyeri ke depannya. Pada pasien dengan masalah psikiatri, diperlukan dukungan psikoterapi / psikofarmaka.
  • Tidak dapat bekerjanya pasien akibat nyeri dapat menimbulkan stres bagi pasien / keluarga.

d. Riwayat pekerjaan :

Pekerjaan yang melibatkan gerakan berulang dan rutin, seperti mengangkat benda berat, membungkuk atau memutar; merupakan pekerjaan tersering yang berhubungan dengan nyeri punggung.

e. Obat-obatan dan alergi.

  • Daftar obat-obatan yang dikonsumsi pasien untuk mengurangi nyeri (suatu studi menunjukkan bahwa 14% populasi di AS mengkonsumsi suplemen / herbal, dan 36% mengkonsumsi vitamin).
  • Cantumkan juga mengenai dosis, tujuan minum obat, durasi, efektifitas, dan efek samping.
  • Direkomendasikan untuk mengurangi atau memberhentikan obat-obatan dengan efek samping kognitif dan fisik.

f. Riwayat keluarga.

i. Evaluasi riwayat medis keluarga terutama penyakit genetik.

g. Asesmen sistem organ yang komprehensif

  • Evaluasi gejala kardiovaskular, psikiatri, pulmoner, gastrointestinal, neurologi, reumatologi, genitourinaria, endokrin, dan muskuloskeletal).
  • Gejala konstitusional: penurunan berat badan, nyeri malam hari, keringat malam, dan sebagainya.

 

2. Asesmen nyeri.

a. Asesmen nyeri dapat menggunakan Numeric Rating Scale.

  1. Indikasi: digunakan pada pasien dewasa dan anak berusia > 9 tahun yang dapat menggunakan angka untuk melambangkan intensitas nyeri yang dirasakannya.
  2. Instruksi: pasien akan ditanya mengenai intensitas nyeri yang dirasakan dan dilambangkan dengan angka antara 0 – 10.
    •    0      = tidak nyeri.
    • 1 – 3   = nyeri ringan (sedikit mengganggu aktivitas sehari-hari).
    • 4 – 6   = nyeri sedang (gangguan nyata terhadap aktivitas sehari-hari).
    • 7 – 10 = nyeri berat (tidak dapat melakukan aktivitas sehari-hari).

 

b. Wong Baker FACES Pain Scale.

  • Indikasi: Pada pasien (dewasa dan anak > 3 tahun) yang tidak dapat menggambarkan intensitas nyerinya dengan angka, gunakan asesmen. 
  • Instruksi: pasien diminta untuk menunjuk / memilih gambar mana yang paling sesuai dengan yang ia rasakan. Tanyakan juga lokasi dan durasi nyeri.
    • 0 – 1  = sangat bahagia karena tidak merasa nyeri sama sekali.
    • 2 – 3 = sedikit nyeri.
    • 4 – 5 = cukup nyeri.
    • 6 – 7 = lumayan nyeri.
    • 8 – 9 = sangat nyeri.
    • 10     = amat sangat nyeri (tak tertahankan).

 

c. Comfort scale.

  • Indikasi: pasien bayi, anak, dan dewasa di ruang rawat intensif / kamar operasi / ruang rawat inap yang tidak dapat dinilai menggunakan Numeric Rating Scale atau Wong-Baker FACES Pain Scale.
  • Instruksi: terdapat 9 kategori dengan setiap kategori memiliki skor 1-5, dengan skor total antara 9 – 45.
    • Kewaspadaan.
    • Ketenangan.
    • Distress pernapasan.
    • Menangis.
    • Pergerakan.
    • Tonus otot.
    • Tegangan wajah.
    • Tekanan darah basal.
    • Denyut jantung basal.
Kategori Skor Tanggal / waktu
       
Kewaspadaan 1 – tidur pulas / nyenyak.
2 – tidur kurang nyenyak.
3 – gelisah.
4 – sadar sepenuhnya dan waspada.
5 – hiper alert.
       
Ketenangan 1 – tenang.
2 – agak cemas.
3 – cemas.
4 – sangat cemas.
5 – panik.
       
Distress pernapasan 1 – tidak ada respirasi spontan dan tidak ada batuk.
2 – respirasi spontan dengan sedikit / tidak ada respons terhadap ventilasi.
3 – kadang-kadang batuk atau terdapat tahanan terhadap ventilasi.
4 – sering batuk, terdapat tahanan / perlawanan terhadap ventilator.
5 – melawan secara aktif terhadap ventilator, batuk terus-menerus / tersedak
       
Menangis 1 – bernapas dengan tenang, tidak  menangis.
2 – terisak-isak.
3 – meraung.
4 – menangis.
5 – berteriak
       
Pergerakan 1 – tidak ada pergerakan.
2 – kedang-kadang bergerak perlahan.
3 – sering bergerak perlahan.
4 – pergerakan aktif / gelisah.
5 – pergrakan aktif termasuk badan dan kepala.
       
Tonus otot 1 – otot relaks sepenuhnya, tidak ada tonus otot.
2 – penurunan tonus otot.
3 – tonus otot normal.
4 – peningkatan tonus otot dan fleksi jari tangan dan kaki.
5 – kekakuan otot ekstrim dan fleksi jari tangan dan kaki
       
Tegangan wajah 1 – otot wajah relaks sepenuhnya.
2 – tonus otot wajah normal, tidak terlihat tegangan otot wajah yang nyata.
3 – tegangan beberapa otot wajah terlihat nyata.
4 – tegangan hampir di seluruh otot wajah.
5 – seluruh otot wajah tegang, meringis
       
Tekanan darah basal 1 – tekanan darah di bawah batas normal.
2 – tekanan darah berada di batas normal secara konsisten.
3 – peningkatan tekanan darah sesekali ?15% di atas batas normal (1-3 kali dalam observasi selama 2 menit).
4 – seringnya peningkatan tekanan darah ?15% di atas batas normal (>3 kali dalam observasi selama 2 menit).
5 – peningkatan tekanan darah terus-menerus ?15%
       
Denyut jantung basal 1 – denyut jantung di bawah batas normal.
2 – denyut jantung berada di batas normal secara konsisten.
3 – peningkatan denyut jantung sesekali ?15% di atas batas normal (1-3 kali dalam observasi selama 2 menit).
4 – seringnya peningkatan denyut jantung ?15% di atas batas normal (>3 kali dalam observasi selama 2 menit).
5 – peningkatan denyut jantung terus-menerus ?15%
       
  Skor total        

d. Pada pasien dalam pengaruh obat anestesi atau dalam kondisi sedasi sedang, asesmen dan penanganan nyeri dilakukan saat pasien menunjukkan respon berupa ekspresi tubuh atau verbal akan rasa nyeri.

e. Asesmen ulang nyeri: dilakukan pada pasien yang dirawat lebih dari beberapa jam dan menunjukkan adanya rasa nyeri, sebagai berikut:

  1. Lakukan asesmen nyeri yang komprensif setiap kali melakukan pemeriksaan fisik pada pasien.
  2. Dilakukan pada: pasien yang mengeluh nyeri, 1 jam setelah tatalaksana nyeri, setiap empat jam (pada pasien yang sadar/ bangun), pasien yang menjalani prosedur menyakitkan, sebelum transfer pasien, dan sebelum pasien pulang dari rumah sakit.
  3. Pada pasien yang mengalami nyeri kardiak (jantung), lakukan asesmen ulang setiap 5 menit setelah pemberian nitrat atau obat-obat intravena
  4. Pada nyeri akut / kronik, lakukan asesmen ulang tiap 30 menit – 1 jam setelah pemberian obat nyeri.

f. Derajat nyeri yang meningkat hebat secara tiba-tiba, terutama bila sampai menimbulkan perubahan tanda vital, merupakan tanda adanya diagnosis medis atau bedah yang baru (misalnya komplikasi pasca-pembedahan, nyeri neuropatik).

 

3. Pemeriksaan Fisik.

a. Pemeriksaan umum.

  1. Tanda vital: tekanan darah, nadi, pernapasan, suhu tubuh.
  2. Ukurlah berat badan dan tinggi badan pasien.
  3. Periksa apakah terdapat lesi / luka di kulit seperti jaringan parut akibat operasi, hiperpigmentasi, ulserasi, tanda bekas jarum suntik.
  4. Perhatikan juga adanya ketidaksegarisan tulang (malalignment), atrofi otot, fasikulasi, diskolorasi, dan edema.

b. Status mental.

  1. Nilai orientasi pasien.
  2. Nilai kemampuan mengingat jangka panjang, pendek, dan segera.
  3. Nilai kemampuan kognitif.
  4. Nilai kondisi emosional pasien, termasuk gejala-gejala depresi, tidak ada harapan, atau cemas.

c. Pemeriksaan sendi.

  1. Selalu periksa kedua sisi untuk menilai kesimetrisan
  2. Nilai dan catat pergerakan aktif semua sendi, perhatikan adanya keterbatasan gerak, diskinesis, raut wajah meringis, atau asimetris.
  3. Nilai dan catat pergerakan pasif dari sendi yang terlihat abnormal / dikeluhkan oleh pasien (saat menilai pergerakan aktif). Perhatikan adanya limitasi gerak, raut wajah meringis, atau asimetris.
  4. Palpasi setiap sendi untuk menilai adanya nyeri
  5. Pemeriksaan stabilitas sendi untuk mengidentifikasi adanya cedera ligamen.

d. Pemeriksaan motorik.

  1. Nilai dan catat kekuatan motorik pasien dengan menggunakan kriteria di bawah ini.
  2. Derajat Definisi
    5 Tidak terdapat keterbatasan gerak, mampu melawan tahanan kuat
    4 Mampu melawan tahanan ringan
    3 Mampu bergerak melawan gravitasi
    2 Mampu bergerak / bergeser ke kiri dan kanan tetapi tidak mampu melawan gravitasi
    1 Terdapat kontraksi otot (inspeksi / palpasi), tidak menghasilkan pergerakan
    0 Tidak terdapat kontraksi otot

 

e. Pemeriksaan sensorik.

  1. Lakukan pemeriksaan: sentuhan ringan, nyeri (tusukan jarum-pin prick), getaran, dan suhu.

f. Pemeriksaan neurologis lainnya.

  1. Evaluasi nervus kranial I – XII, terutama jika pasien mengeluh nyeri wajah atau servikal dan sakit kepala.
  2. Periksa refleks otot, nilai adanya asimetris dan klonus. Untuk mencetuskan klonus membutuhkan kontraksi > 4 otot.
Refleks Segmen spinal
Biseps C5
Brakioradialis C6
Triseps C7
Tendon patella L4
Hamstring medial L5
Achilles S1
  • Nilai adanya refleks Babinski dan Hoffman (hasil positif menunjukkan lesi upper motor neuron)
  • Nilai gaya berjalan pasien dan identifikasi defisit serebelum dengan melakukan tes dismetrik (tes pergerakan jari-ke-hidung, pergerakan tumit-ke-tibia), tes disdiadokokinesia, dan tes keseimbangan (Romberg dan Romberg modifikasi).

g. Pemeriksaan khusus.

  1. Terdapat 5 tanda non-organik pada pasien dengan gejala nyeri tetapi tidak ditemukan etiologi secara anatomi. Pada beberapa pasien dengan 5 tanda ini ditemukan mengalami hipokondriasis, histeria, dan depresi.
  2. Kelima tanda ini adalah:
    • Distribusi nyeri superfisial atau non-anatomik
    • Gangguan sensorik atau motorik non-anatomik
    • Verbalisasi berlebihan akan nyeri (over-reaktif)
    • Reaksi nyeri yang berlebihan saat menjalani tes / pemeriksaan nyeri.
    • Keluhan akan nyeri yang tidak konsisten (berpindah-pindah) saat gerakan yang sama dilakukan pada posisi yang berbeda (distraksi).

4. Pemeriksaan Elektromiografi (EMG).

a. Membantu mencari penyebab nyeri akut / kronik pasien
b. Mengidentifikasi area persarafan / cedera otot fokal atau difus yang terkena
c. Mengidentifikasi atau menyingkirkan kemungkinan yang berhubungan dengan rehabilitasi, injeksi, pembedahan, atau terapi obat.
d. Membantu menegakkan diagnosis
e. Pemeriksaan serial membantu pemantauan pemulihan pasien dan respons terhadap terapi
f. Indikasi: kecurigaan saraf terjepit, mono- / poli-neuropati, radikulopati.

5. Pemeriksaan sensorik kuantitatif.

a. Pemeriksaan sensorik mekanik (tidak nyeri): getaran
b. Pemeriksaan sensorik mekanik (nyeri): tusukan jarum, tekanan
c. Pemeriksaan sensasi suhu (dingin, hangat, panas)
d. Pemeriksaan sensasi persepsi

6. Pemeriksaan radiologi.

a. Indikasi:

1. pasien nyeri dengan kecurigaan penyakit degeneratif tulang belakang
2. pasien dengan kecurigaan adanya neoplasma, infeksi tulang belakang, penyakit inflamatorik, dan penyakit vascular.
3. Pasien dengan defisit neurologis motorik, kolon, kandung kemih, atau ereksi.
4. Pasien dengan riwayat pembedahan tulang belakang
5. Gejala nyeri yang menetap > 4 minggu

b. Pemilihan pemeriksaan radiologi: bergantung pada lokasi dan karakteristik nyeri.

1. Foto polos: untuk skrining inisial pada tulang belakang (fraktur, ketidaksegarisan vertebra, spondilolistesis, spondilolisis, neoplasma)
2. MRI: gold standard dalam mengevaluasi tulang belakang (herniasi diskus, stenosis spinal, osteomyelitis, infeksi ruang diskus, keganasan, kompresi tulang belakang, infeksi)
3. CT-scan: evaluasi trauma tulang belakang, herniasi diskus, stenosis spinal.
4. Radionuklida bone-scan: sangat bagus dalam mendeteksi perubahan metabolisme tulang (mendeteksi osteomyelitis dini, fraktur kompresi yang kecil/minimal, keganasan primer, metastasis tulang)

7. Asesmen psikologi.

a. Nilai mood pasien, apakah dalam kondisi cemas, ketakutan, depresi.
b. Nilai adanya gangguan tidur, masalah terkait pekerjaan
c. Nilai adanya dukungan sosial, interaksi sosial

 

Farmakologi Obat Analgesik.

1. Lidokain tempel (Lidocaine patch) 5%.

a. Berisi lidokain 5% (700 mg).
b. Mekanisme kerja: memblok aktivitas abnormal di kanal natrium neuronal.
c. Memberikan efek analgesik yang cukup baik ke jaringan lokal, tanpa adanya efek anestesi (baal), bekrja secara perifer sehingga tidak ada efek samping sistemik
d. Indikasi: sangat baik untuk nyeri neuropatik (misalnya neuralgia pasca-herpetik, neuropati diabetik, neuralgia pasca-pembedahan), nyeri punggung bawah, nyeri miofasial, osteoarthritis
e. Efek samping: iritasi kulit ringan pada tempat menempelnya lidokain
f. Dosis dan cara penggunaan: dapat memakai hingga 3 patches di area yang paling nyeri (kulit harus intak, tidak boleh ada luka terbuka), dipakai selama <12 jam dalam periode 24 jam.

2. Eutectic Mixture of Local Anesthetics (EMLA).

a. Mengandung lidokain 2,5% dan prilokain 2,5%
b. Indikasi: anestesi topical yang diaplikasikan pada kulit yang intak dan pada membrane mukosa genital untuk pembedahan minor superfisial dan sebagai pre-medikasi untuk anestesi infiltrasi.
c. Mekanisme kerja: efek anestesi (baal) dengan memblok total kanal natrium saraf sensorik.
d. Onset kerjanya bergantung pada jumlah krim yang diberikan. Efek anesthesia lokal pada kulit bertahan selama 2-3 jam dengan ditutupi kassa oklusif dan menetap selama 1-2 jam setelah kassa dilepas.
e. Kontraindikasi: methemoglobinemia idiopatik atau kongenital.
f. Dosis dan cara penggunaan: oleskan krim EMLA dengan tebal pada kulit dan tutuplah dengan kassa oklusif.

3. Parasetamol.

a. Efek analgesik untuk nyeri ringan-sedang dan anti-piretik. Dapat dikombinasikan dengan opioid untuk memperoleh efek anelgesik yang lebih besar.
b. Dosis: 10 mg/kgBB/kali dengan pemberian 3-4 kali sehari. Untuk dewasa dapat diberikan dosis 3-4 kali 500 mg perhari.

 

4. Obat Anti-Inflamasi Non-Steroid (OAINS).

a. Efek analgesik pada nyeri akut dan kronik dengan intensitas ringan-sedang, anti-piretik
b. Kontraindikasi: pasien dengan Triad Franklin (polip hidung, angioedema, dan urtikaria) karena sering terjadi reaksi anafilaktoid.
c. Efek samping: gastrointestinal (erosi / ulkus gaster), disfungsi renal, peningkatan enzim hati.
d. Ketorolak :

1. merupakan satu-satunya OAINS yang tersedia untuk parenteral. Efektif untuk nyeri sedang-berat
2. bermanfaat jika terdapat kontraindikasi opioid atau dikombinasikan dengan opioid untuk mendapat efek sinergistik dan meminimalisasi efek samping opioid (depresi pernapasan, sedasi, stasis gastrointestinal). Sangat baik untuk terapi multi-analgesik.

5. Efek analgesik pada Antidepresan

a. Mekanisme kerja: memblok pengambilan kembali norepinefrin dan serotonin sehingga meningkatkan efek neurotransmitter tersebut dan meningkatkan aktivasi neuron inhibisi nosiseptif.
b. Indikasi: nyeri neuropatik (neuropati DM, neuralgia pasca-herpetik, cedera saraf perifer, nyeri sentral)
c. Contoh obat yang sering dipakai: amitriptilin, imipramine, despiramin: efek antinosiseptif perifer. Dosis: 50 – 300 mg, sekali sehari.

6. Anti-konvulsan

a. Carbamazepine: efektif untuk nyeri neuropatik. Efek samping: somnolen, gangguan berjalan, pusing. Dosis: 400 – 1800 mg/hari (2-3 kali perhari). Mulai dengan dosis kecil (2 x 100 mg), ditingkatkan perminggu hingga dosis efektif.
b. Gabapentin: Merupakan obat pilihan utama dalam mengobati nyeri neuropatik. Efek samping minimal dan ditoleransi dengan baik. Dosis: 100-4800 mg/hari (3-4 kali sehari).

7. Antagonis kanal natrium

a. Indikasi: nyeri neuropatik dan pasca-operasi
b. Lidokain: dosis 2mg/kgBB selama 20 menit, lalu dilanjutkan dengan 1-3mg/kgBB/jam titrasi.
c. Prokain: 4-6,5 mg/kgBB/hari.

 

8. Antagonis kanal kalsium

a. Ziconotide: merupakan anatagonis kanal kalsium yang paling efektif sebagai analgesik. Dosis: 1-3ug/hari. Efek samping: pusing, mual, nistagmus, ketidakseimbangan berjalan, konstipasi. Efek samping ini bergantung dosis dan reversibel jika dosis dikurangi atau obat dihentikan.
b. Nimodipin, Verapamil: mengobati migraine dan sakit kepala kronik. Menurunkan kebutuhan morfin pada pasien kanker yang menggunakan eskalasi dosis morfin.

9. Tramadol

a. Merupakan analgesik yang lebih poten daripada OAINS oral, dengan efek samping yang lebih sedikit / ringan. Berefek sinergistik dengan medikasi OAINS.
b. Indikasi: Efektif untuk nyeri akut dan kronik intensitas sedang (nyeri kanker, osteoarthritis, nyeri punggung bawahm neuropati DM, fibromyalgia, neuralgia pasca-herpetik, nyeri pasca-operasi.
c. Efek samping: pusing, mual, muntah, letargi, konstipasi.
d. Jalur pemberian: intravena, epidural, rektal, dan oral.
e. Dosis tramadol oral: 3-4 kali 50-100 mg (perhari). Dosis maksimal: 400mg dalam 24 jam.
f. Titrasi: terbukti meningkatkan toleransi pasien terhadap medikasi, terutama digunakan pada pasien nyeri kronik dengan riwayat toleransi yang buruk terhadap pengobatan atau memiliki risiko tinggi jatuh.

Protokol Titrasi

Dosis inisial

Jadwal titrasi

Direkomendasikan untuk

Titrasi 10-hari 4 x 50mg selama 3 hari ·- 2 x 50mg selama 3 hari.
– Naikkan menjadi 3 x 50mg selama 3 hari.
– Lanjutkan dengan 4 x 50mg.
– Dapat dinaikkan sampai tercapai efek analgesik yang diinginkan.
 – Lanjut usia
·- Risiko jatuh
– Sensitivitas medikasi
Titrasi 16-hari 4 x 25mg selama 3 hari – 2 x 25mg selama 3 hari.
– Naikkan menjadi 3 x 25mg selama 3 hari.
– Naikkan menjadi 4 x 25mg selama 3 hari.
– Naikkan menjadi 2 x 50mg dan 2 x 25mg selama 3 hari.
– Naikkan menjadi 4 x 50mg.
– Dapat dinaikkan sampai tercapai efek analgesik yang diinginkan.
·- Lanjut usia
·- Risiko jatuh
– Sensitivitas medikasi

 

10. Opioid.

a. Merupakan analgesik poten (tergantung-dosis) dan efeknya dapat ditiadakan oleh nalokson.
b. Contoh opioid yang sering digunakan: morfin, sufentanil, meperidin.
c. Dosis opioid disesuaikan pada setiap individu, gunakanlah titrasi.
d. Adiksi terhadap opioid sangat jarang terjadi bila digunakan untuk penatalaksanaan nyeri akut.

e. Efek samping :

i. Depresi pernapasan, dapat terjadi pada:

• Overdosis : pemberian dosis besar, akumulasi akibat pemberian secara infus, opioid long acting
• Pemberian sedasi bersamaan (benzodiazepin, antihistamin, antiemetik tertentu)
• Adanya kondisi tertentu: gangguan elektrolit, hipovolemia, uremia, gangguan respirasi dan peningkatan tekanan intrakranial.
• Obstructive sleep apnoes atau obstruksi jalan nafas intermiten

ii. Sedasi: adalah indikator yang baik untuk dan dipantau dengan menggunakan skor sedasi, yaitu:
• 0 = sadar penuh
• 1 = sedasi ringan, kadang mengantuk, mudah dibangunkan
• 2 = sedasi sedang, sering secara konstan mengantuk, mudah dibangunkan
• 3 = sedasi berat, somnolen, sukar dibangunkan
• S = tidur normal

iii. Sistem Saraf Pusat:
• Euforia, halusinasi, miosis, kekakukan otot
• Pemakai MAOI : pemberian petidin dapat menimbulkan koma

iv. Toksisitas metabolit
• Petidin (norpetidin) menimbulkan tremor, twitching, mioklonus multifokal, kejang
• Petidin tidak boleh digunakan lebih dari 72 jam untuk penatalaksanaan nyeri pasca-bedah
• Pemberian morfin kronik: menimbulkan gangguan fungsi ginjal, terutama pada pasien usia > 70 tahun

v. Efek kardiovaskular :
• Tergantung jenis, dosis, dan cara pemberian; status volume intravascular; serta level aktivitas simpatetik
• Morfin menimbulkan vasodilatasi
• Petidin menimbulkan takikardi

vi. Gastrointestinal: Mual, muntah. Terapi untuk mual dan muntah: hidrasi dan pantau tekanan darah dengan adekuat, hindari pergerakan berlebihan pasca-bedah, atasi kecemasan pasien, obat antiemetic.

Perbandingan Obat-Obatan Anti-Emetik.

Kategori Metoklopramid Droperidol, butirofenon Ondansetron Proklorperazin, fenotiazin
Durasi (jam) 4 4-6 (dosis rendah)
24 (dosis tinggi)
8-24 6
Efek samping:

·      Ekstrapiramidal

·      Anti-kolinergik

·      sedasi

 

++

+

 

++

+

+

 

 

+

+

+

Dosis (mg) 10 0,25-0,5 4 12,5
Frekuensi Tiap 4-6 jam Tiap 4-6 jam Tiap 12 jam Tiap 6-8 jam
Jalur pemberian Oral, IV, IM IV, IM Oral, IV Oral, IM

 

f. Pemberian Oral:

1. sama efektifnya dnegan pemberian parenteral pada dosis yang sesuai.
2. Digunakan segera setelah pasien dapat mentoleransi medikasi oral.

g. Injeksi intramuscular:

1. merupakan rute parenteral standar yang sering digunakan.
2. Namun, injeksi menimbulkan nyeri dan efektifitas penyerapannya tidak dapat diandalkan.
3. Hindari pemberian via intramuscular sebisa mungkin.

h. Injeksi subkutan

1. Injeksi intravena:
2. Pilihan perenteral utama setelah pembedahan major.
3. Dapat digunakan sebagai bolus atau pemberian terus-menerus (melalui infus).
4. Terdapat risiko depresi pernapasan pada pemberian yang tidak sesuai dosis.

j. Injeksi supraspinal:

1. Lokasi mikroinjeksi terbaik: mesencephalic periaqueductal gray (PAG).
2. Mekanisme kerja: memblok respons nosiseptif di otak.
3. Opioid intraserebroventrikular digunakan sebagai pereda nyeri pada pasien kanker.

k. Injeksi spinal (epidural, intratekal):

1. Secara selektif mengurangi keluarnya neurotransmitter di neuron kornu dorsalis spinal.
2. Sangat efektif sebagai analgesik.
3. Harus dipantau dengan ketat

l. Injeksi Perifer.

1. Pemberian opioid secara langsung ke saraf perifer menimbulkan efek anestesi lokal (pada konsentrasi tinggi).
2. Sering digunakan pada: sendi lutut yang mengalami inflamasi.

 

Manajemen Nyeri Akut.

1. Nyeri akut merupakan nyeri yang terjadi < 6 minggu.

2. Lakukan asesmen nyeri: mulai dari anamnesis hingga pemeriksaan penunjang.

3. Tentukan mekanisme nyeri:

a. Nyeri somatik:

1. Diakibatkan adanya kerusakan jaringan yang menyebabkan pelepasan zat kima dari sel yang cedera dan memediasi inflamasi dan nyeri melalui nosiseptor kulit.
2. Karakteristik: onset cepat, terlokalisasi dengan baik, dan nyeri bersifat tajam, menusuk, atau seperti ditikam.
3. Contoh: nyeri akibat laserasi, sprain, fraktur, dislokasi.

b. Nyeri visceral:

1. Nosiseptor visceral lebih setikit dibandingkan somatic, sehingga jika terstimulasi akan menimbulkan nyeri yang kurang bisa dilokalisasi, bersifat difus, tumpul, seperti ditekan benda berat.
2. Penyebab: iskemi/nekrosis, inflamasi, peregangan ligament, spasme otot polos, distensi organ berongga / lumen.
3. Biasanya disertai dengan gejala otonom, seperti mual, muntah, hipotensi, bradikardia, berkeringat.

c. Nyeri neuropatik:

1. Berasal dari cedera jaringan saraf
2. Sifat nyeri: rasa terbakar, nyeri menjalar, kesemutan, alodinia (nyeri saat disentuh), hiperalgesia.
3. Gejala nyeri biasanya dialami pada bagian distal dari tempat cedera (sementara pada nyeri nosiseptif, nyeri dialami pada tempat cederanya)
4. Biasanya diderita oleh pasien dengan diabetes, multiple sclerosis, herniasi diskus, AIDS, pasien yang menjalani kemoterapi / radioterapi.

4. Tatalaksana sesuai mekanisme nyerinya.

a. Farmakologi: gunakan Step-Ladder WHO.

1. OAINS efektif untuk nyeri ringan-sedang, opioid efektif untuk nyeri sedang-berat.
2. Mulailah dengan pemberian OAINS / opioid lemah (langkah 1 dan 2) dnegan pemberian intermiten (pro re nata-prn) opioid kuat yang disesuaikan dengan kebutuhan pasien.
3. Jika langkah 1 dan 2 kurang efektif / nyeri menjadi sedang-berat, dapat ditingkatkan menjadi langkah 3 (ganti dengan opioid kuat dan prn analgesik dalam kurun waktu 24 jam setelah langkah 1).
4. Penggunaan opioid harus dititrasi. Opioid standar yang sering digunakan adalah morfin, kodein.
5. Jika pasien memiliki kontraindikasi absolut OAINS, dapat diberikan opioid ringan.
6. Jika fase nyeri akut pasien telah terlewati, lakukan pengurangan dosis secara bertahap:

• Intravena: antikonvulsan, ketamine, OAINS, opioid
• Oral: antikonvulsan, antidepresan, antihistamin, anxiolytic, kortikosteroid, anestesi lokal, OAINS, opioid, tramadol.
• Rektal (supositoria): parasetamol, aspirin, opioid, fenotiazin
• Topical: lidokain patch, EMLA
• Subkutan: opioid, anestesi lokal.

*Keterangan:
• patch fentanyl tidak boleh digunakan untuk nyeri akut karena tidak sesuai indikasi dan onset kerjanya lama.
• Untuk nyeri kronik: pertimbangkan pemberian terapi analgesik adjuvant (misalnya amitriptilin, gabapentin).
*Istilah:
• NSAID: non-steroidal anti-inflammatory drug.
• S/R: slow release.
• PRN: when required.

7. Berikut adalah algoritma pemberian opioid intermiten (prn) intravena untuk nyeri akut, dengan syarat:
• Hanya digunakan oleh staf yang telah mendapat instruksi
• Tidak sesuai untuk pemberian analgesik secara rutin di ruang rawat inap biasa
• Efek puncak dari dosis intravena dapat terjadi selama 15 menit sehingga semua pasien harus diobservasi dengan ketat selama fase ini.

 

viii. Manajemen efek samping:

• opioid :
– Mual dan muntah: antiemetic
– Konstipasi: berikan stimulant buang air besar, hindari laksatif yang mengandung serat karena dapat menyebabkan produksi gas-kembung-kram perut.
– Gatal: pertimbangkan untuk mengganti opioid jenis lain, dapat juga menggunakan antihistamin.
– Mioklonus: pertimbangkan untuk mengganti opioid, atau berikan benzodiazepine untuk mengatasi mioklonus.
– Depresi pernapasan akibat opioid: berikan nalokson (campur 0,4mg nalokson dengan NaCl 0,9% sehingga total volume mencapai 10ml). Berikan 0,02 mg (0,5ml) bolus setiap menit hingga kecepatan pernapasan meningkat. Dapat diulang jika pasien mendapat terapi opioid jangka panjang.

• OAINS:
– Gangguan gastrointestinal: berikan PPI (proton pump inhibitor)
– Perdarahan akibat disfungsi platelet: pertimbangkan untuk mengganti OAINS yang tidak memiliki efek terhadap agregasi platelet.

b. Pembedahan: injeksi epidural, supraspinal, infiltrasi anestesi lokal di tempat nyeri.

c. Non-farmakologi:

1. Olah raga
2. Imobilisasi
3. Pijat
4. Relaksasi
5. Stimulasi saraf transkutan elektrik8

5. Follow-up / asesmen ulang.

a. Asesmen ulang sebaiknya dilakukan dengan interval yang teratur.
b. Panduan umum:
   1. Pemberian parenteral: 30 menit
   2. Pemberian oral: 60 menit
   3. Intervensi non-farmakologi: 30-60 menit.

6. Pencegahan  :

a. Edukasi pasien:
1. Berikan informasi mengenai kondisi dan penyakit pasien, serta tatalaksananya.
2. Diskusikan tujuan dari manajemen nyeri dan manfaatnya untuk pasien
3. Beritahukan bahwa pasien dapat mengubungi tim medis jika memiliki pertanyaan / ingin berkonsultasi mengenai kondisinya.
4. Pasien dan keluarga ikut dilibatkan dalam menyusun manajemen nyeri (termasuk penjadwalan medikasi, pemilihan analgesik, dan jadwal control).

b. Kepatuhan pasien dalam menjalani manajemen nyeri dengan baik.

7. Medikasi saat pasien pulang.

a. Pasien dipulangkan segera setelah nyeri dapat teratasi dan dapat beraktivitas seperti biasa / normal.
b. Pemilihan medikasi analgesik bergantung pada kondisi pasien.

 

Manajemen Nyeri Kronik.

 

1. Lakukan asesmen nyeri:

a. anamnesis dan pemeriksaan fisik (karakteristik nyeri, riwayat manajemen nyeri sebelumnya)
b. pemeriksaan penunjang: radiologi
c. asesmen fungsional:
1.nilai aktivitas hidup dasar (ADL), identifikasi kecacatan / disabilitas.
2.buatlah tujuan fungsional spesifik dan rencana perawatan pasien.
3.nilai efektifitas rencana perawatan dan manajemen pengobatan.

2. tentukan mekanisme nyeri:

a. manajemen bergantung pada jenis / klasifikasi nyerinya.
b. Pasien sering mengalami > 1 jenis nyeri.
c. Terbagi menjadi 4 jenis:

1. Nyeri neuropatik:
• disebabkan oleh kerusakan / disfungsi sistem somatosensorik.
• Contoh: neuropati DM, neuralgia trigeminal, neuralgia pasca-herpetik.
• Karakteristik: nyeri persisten, rasa terbakar, terdapat penjalaran nyeri sesuai dengan persarafannya, baal, kesemutan, alodinia.
• Fibromyalgia: gatal, kaku, dan nyeri yang difus pada musculoskeletal (bahu, ekstremitas), nyeri berlangsung selama > 3bulan

2. Nyeri otot: tersering adalah nyeri miofasial.
• mengenai otot leher, bahu, lengan, punggung bawah, panggul, dan ekstremitas bawah.
• Nyeri dirasakan akibat disfungsi pada 1/lebih jenis otot, berakibat kelemahan, keterbatasan gerak.
• Biasanya muncul akibat aktivitas pekerjaan yang repetitive.
• Tatalaksana: mengembalikan fungsi otot dengan fisioterapi, identifikasi dan manajemen faktor yang memperberat (postur, gerakan repetitive, faktor pekerjaan)

3. Nyeri inflamasi (dikenal juga dengan istilah nyeri nosiseptif):
• Contoh: artritis, infeksi, cedera jaringan (luka), nyeri pasca-operasi
• Karakteristik: pembengkakan, kemerahan, panas pada tempat nyeri. Terdapat riwayat cedera / luka.
• Tatalaksana: manajemen proses inflamasi dengan antibiotic / antirematik, OAINS, kortikosteroid.

4. Nyeri mekanis / kompresi:
• Diperberat dengan aktivitas, dan nyeri berkurang dengan istirahat.
• Contoh: nyeri punggung dan leher (berkaitan dengan strain/sprain ligament/otot), degenerasi diskus, osteoporosis dengan fraktur kompresi, fraktur.
• Merupakan nyeri nosiseptif
• Tatalaksana: beberapa memerlukan dekompresi atau stabilisasi.

3. Nyeri kronik: nyeri yang persisten / berlangsung > 6 minggu

4. Asesmen lainnya:

a. Asesmen psikologi: nilai apakah pasien mempunyai masalah psikiatri (depresi, cemas, riwayat penyalahgunaan obat-obatan, riwayat penganiayaan secara seksual/fisik.verbal, gangguan tidur)
b. Masalah pekerjaan dan disabilitas
c. Faktor yang mempengaruhi:
1. Kebiasaan akan postur leher dan kepala yang buruk
2. Penyakit lain yang memperburuk / memicu nyeri kronik pasien
d. Hambatan terhadap tatalaksana:
1. Hambatan komunikasi / bahasa
2. Faktor finansial
3. Rendahnya motivasi dan jarak yang jauh terhadap fasilitas kesehatan
4. Kepatuhan pasien yang buruk
5. Kurangnya dukungan dari keluarga dan teman

5. Manajemen nyeri kronik.

a. Prinsip level 1:

  1. Buatlah rencana perawatan tertulis secara komprehensif (buat tujuan, perbaiki tidur, tingkatkan aktivitas fisik, manajemen stress, kurangi nyeri).
  2. Pasien harus berpartisipasi dalam program latihan untuk meningkatkan fungsi.
  3. Dokter dapat mempertimbangkan pendekatan perilaku kognitif dengan restorasi fungsi untuk membantu mengurangi nyeri dan meningkatkan fungsi.
    • Beritahukan kepada pasien bahwa nyeri kronik adalah masalah yang rumit dan kompleks. Tatalaksana sering mencakup manajemen stress, latihan fisik, terapi relaksasi, dan sebagainya.
    • Beritahukan pasien bahwa focus dokter adalah manajemen nyerinya.
    • Ajaklah pasien untuk berpartisipasi aktif dalam manajemen nyeri.
    • Berikan medikasi nyeri yang teratur dan terkontrol.
    • Jadwalkan control pasien secara rutin, jangan biarkan penjadwalan untuk control dipengaruhi oleh peningkatan level nyeri pasien.
    • Bekerjasama dengan keluarga untuk memberikan dukungan kepada pasien.
    • Bantulah pasien agar dapat kembali bekerja secara bertahap.
    • Atasi keengganan pasien untuk bergerak karena takut nyeri.
  4. Manajemen psikososial (atasi depresi, kecemasan, ketakutan pasien).

Berikut adalah formulir rencana perawatan pasien dengan nyeri kronik:

 

 

 

MANAJEMEN NYERI KRONIK   (tunggu masih di ketik-ketik…)